Ragam  

BELA PURWAKARTA Merekomendasikan Jalan Dalem SHOLAWAT dan MUSEUM Syekh Baing Yusuf

PURWAKARTA | Silaturahmi yang dikemas dengan Diskusi Sejarah di kediaman Sejarawan Purwakarta, Naurid Muhammad Rifa’i Ilyasa di jalan Ibrahim Singadilaga atau biasa disebut wilayah Koncara berlangsung ringan, hangat namun mendalam.

“Ya silaturahmi ini sebagai media melepas kekangenan karena selama ini kami hanya bisa berbalas komen di Grup Whatsapp BELA PURWAKARTA, sekaligus ingin update langsung perkembangan penelitian kesejarahan yang tengah dilakukan oleh adinda Naurid dalam kapasitasnya sebagai Sejarawan Purwakarta,” tutur Aa Komara, Koordinator Bela Purwakarta ditemani beberapa pengurus Bela Purwakarta.

Naurid Muhammad Rifa’i Ilyasa sendiri diketahui sebagai Penulis Buku Pergolakan Tanam Paksa dan Sejarah Berdirinya Purwakarta, jebolan Studi Kesejarahan dari UIN Sunan Gunung Jati Bandung.

Buku karyanya tersebut terakhir kali di launching/di-bedah buku-kan pada moment perayaan Hari Santri Nasional di Aula Yudistira Pemkab Purwakarta beberapa waktu lalu.

“Alhamdulillah di Grup Bela Purwakarta, selain sebagai wadah silaturahmi dan koordinasi antar komunitas dan organisasi di Purwakarta, juga turut bersilaturahmi individu individu yang notabene memiliki kapasitas / talent ( bakat ), termasuk adinda Naurid yang berkapasitas sebagai Ahli Sejarah.

Grup Bela Purwakarta memang didesain sebagai wadah untuk mengapresiasi setiap SDM Purwakarta yang memiliki prestasi, dedikasi baik di Purwakarta bahkan dunia.

Di Grup ini terdapat nama nama seperti Gugun Gumilar yang pernah menyandang Duta Muda Perserikatan Bangsa Bangsa yang memiliki networking internasional, Ida Lestari Ketua IPEMI Brunei Darussalam, Cepi Noval seorang polisi yang sempat Viral karena begitu dicintai warganya ketika menjabat sebagai Kapolres di Sumatera Barat dan beberapa waktu lalu dianugerahi penghargaan sebagai Polisi Teladan dari Presiden RI, kini beliau bertugas di Polda Sumbar, dan banyak lagi figur yang membanggakan dan berkapasitas lainnya baik yang sedang berdiaspora di luar negeri maupun di dalam negeri yang semuanya berasal dari kota Purwakarta tercinta ini,” sambung Aa Komara.

Baca Juga  Konferwil PWI Purwakarta dan Perwujudan Program Purwakarta Istimewa

“Dalam obrolan bersama adinda Naurid ini didapatkan kabar baik bahkan sangat membahagiakan, bahwasanya dari progress penelusuran kesejarahan ini telah ditemukan Foto Syekh Baing Yusuf, sang ulama besar kebanggaan Purwakarta.

Baru baru ini kami juga mendapat kabar baik bahwa Pemkab Purwakarta mengabadikan nama Syekh Baing Yusuf menjadi salah satu nama jalan di Purwakarta. Untuk upaya tersebut kami sangat mengapresiasi karena memang sudah sepatutnya sang ulama besar, yang menurut adinda Naurid ini dahulu semasa hidupnya Syekh Baing Yusuf disebut sebagai Maha Guru dari Ulama se Nusantara, bahkan bagi ulama di luar Nusantara.

Dalam konteks memperkuat Sense of Belonging atau Semangat Mencintai dan Memiliki Kota Purwakarta, pada kesempatan ini, kami merekomendasikan dua hal :

  1. Perlu didirikannya Jalan Dalem Sholawat, sebagaimana diketahui dalam setiap perayaan Hari Jadi Purwakarta dari tahun ke tahun, nama Dalem Sholawat atau lengkapnya R.A.A. Suriawinata selalu disebut sebut, karena memang beliau lah dalam kapasitasnya sebagai Bupati Karawang yang memindahkan ibukota dari Wanayasa ke Sindangkasih yang kemudian atas prakarsanya berganti nama menjadi PURWAKARTA.

Beliau sebagai The Founding Father pendirian kota Purwakarta ini bersama sama Syekh Baing Yusuf, yang notabene masih kerabatnya, dengan segala dedikasinya merintis keberadaan Purwakarta yang kita tinggali sekarang.

Baik Dalem Sholawat maupun Syekh Baing Yusuf merupakan 2 Figur Sentral yang saling menguatkan di masa awal pendirian Purwakarta, kami mengasumsikannya seperti dua serangkai/dwitunggal proklamator bangsa: Soekarno-Hatta.

Artinya sudah sepatutnya pula Dalem Sholawat dijadikan menjadi sebuah nama jalan di Purwakarta. karena faktanya ada beberapa nama tokoh yang secara periode waktu -lebih muda ketimbang Dalem Sholawat & Syekh Baing Yusuf- sudah terlebih dahulu menjadi nama jalan, misal Jalan Ibrahim Singadilaga (diambil dari nama Tokoh Masyarakat yang turut berperan memugar Masjid Agung Purwakarta, -sekarang Masjid Agung Baing Yusuf), Jalan Gandanegara (diambil dari nama salah satu Bupati yang pernah bertugas/ berkedudukan di Purwakarta), dan beberapa nama lainnya.

Baca Juga  Jihad Santri Jayakan Negeri, Forkopimda Purwakarta Peringati Hari Santri Nasional 2023

Dengan demikian akan lebih sempurna jika Sang Tokoh Pendiri dan Perintis Purwakarta dalam hal ini Dalem Sholawat pun diabadikan menjadi nama jalan, dan memang sudah sepantasnya seperti halnya penamaan jalan Syekh Baing Yusuf.

Terkait lokasi jalan yang paling relevan adalah di wilayah Situ Buleud, sebagai lokasi di mana Dalem Sholawat pertama kali tinggal dan memulai menata Purwakarta.

Namun tidak menutup kemungkinan jika ada lokasi jalan di titik lain yang lebih strategis, karena penamaan jalan Syekh Baing Yusuf pun tidak berlokasi di seputaran wilayah kaum/kompleks Masjid Agung Baing Yusuf, di mana dahulu kala beliau memusatkan aktivitasnya.

Perihal penentuan lokasi jalan Dalem Sholawat ini kiranya dapat dimusyawarahkan selanjutnya.

  1. Perlu didirikannya Museum/Diorama Syekh Baing Yusuf.

Sepanjang yang kami ketahui, ada beberapa benda peninggalan diantaranya Pedang Pusaka, sejumlah Kitab yang disimpan oleh keturunan Syekh Baing Yusuf, ditambah temuan terbaru dengan adanya Foto Syekh Baing Yusuf, yang selama ini baik masyarakat Purwakarta maupun para Peziarah menantikan seperti apa rupa dari Sang Ulama Legendaris ini.

Jika semua variabel bernilai sejarah tersebut dikumpulkan, dirawat, dikemas lalu diperkenalkan ke publik terutama ke para peziarah, rupanya akan memperkuat ketokohan Syekh Baing Yusuf yang notabene secara nasional telah diakui kebesaran namanya.

Selain menambah daya tarik wisata religi tentunya secara umum Purwakarta akan menjadi barometer studi kesejarahan perkembangan Islam di Nusantara.

Sebaiknya lokasi Museum atau Diorama Syekh Baing Yusuf ini masih dalam satu kompleks dengan Masjid Agung Baing Yusuf untuk mengefisienkan waktu kunjungan para peziarah dari luar Purwakarta.

Keberadaan Museum ini dilengkapi dengan Galeri yang menyuguhkan segala macam atribut/souvenir yang menampilkan Icon Icon yang berhubungan dengan Syekh Baing Yusuf.

Baca Juga  Pemuda Purwakarta Bisa Gugat Pemda Purwakarta Terkait Tidak Dilaksanakannya Ketentuan Perda No 2 Tahun 2019

Selain para peziarah mendapat aneka souvenir tersebut untuk di bawa ke kota asalnya, di sisi lain, UMKM Purwakarta yang memproduksi souvenir tersebut ikut terdongkrak, walhasil kreativitas dan aktivitas ini membantu perekonomian umat sekalipun sosok Sang Pengayom Ummat (Syekh Baing Yusuf) telah tiada, namun berkahnya dirasakan sepanjang masa.

Semoga Rekomendasi ini di khidmati dengan seksama oleh para pemilik kebijakan dalam perspektif memperkuat Local Wisdom serta dapat direalisasikan dalam tempo yang tidak terlalu lama.

Barangkali yang bisa didahulukan adalah penamaan Jalan Dalem Sholawat, karena untuk membangun Museum/Diorama Syekh Baing Yusuf memerlukan waktu.

Semoga ikhtiar ini menjadi Kado Spesial bagi masyarakat Purwakarta di awal tahun 2023 mendatang” pungkas Aa Komara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *